Senin, 20 Juli 2015

ASAL MULA MUNCULNYA AGAMA KRISTEN (Lengkap)

         

Kapan mulai munculnya agama Kristen ?
                                       




        






Ada beberapa pendapat yang berbeda: Pertama, mengatakan bahwa agama Kristen dimulai pada saat peristiwa Pentakosta (turunnya Roh Kudus), karena pada peristiwa tersebut Tuhan memberikan Roh-Nya kepada Para Rasul atau orang percaya lainnya, yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada mereka untuk mengabarkan Injil.

Kedua, menunjuk kepada penyebutan terhadap pengikut Kristus sebagai orang-orang Kristen di Antiokia (Kis. 15:7-21). Ketiga, ada yang menunjuk awal agama Kristen pada peristiwa Paskah/Kebangkitan Yesus, karena anggapan bahwa kebangkitan Yesus itu menjadi titik awal dari iman Kristen dan penyebarannya.

Namun demikian, karena sumber pengajaran atau tokoh yang mengajarkan agama Kristen /Injil adalah Yesus Kristus, maka tentu awal sejarah agama Kristen dapat kita tunjuk pada waktu ketika Yesus masih hidup dan berkarya, atau bahkan dapat ditunjuk pada saat kelahiran Yesus. Dengan kata lain, sejarah agama Kristen sudah dimulai sejak Yesus ada di dunia dan melakukan karya penyelamatan-Nya.

MASA PELAYANAN YESUS

Di dalam masa pelayanan Yesus, kita tahu bahwa Yesus merupakan Allah yang menjadi manusia dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia. Dengan tugas ini maka Yesus mulai mengajarkan kabar suka cita atau keselamatan itu, melalui khotbah-khotbah-Nya, juga melakui mujizat-mujizat dan melalui pemanggilan para murid atau pemuridan. Ketika Yesus berkarya kemudian dilanjutkan oleh murid-murid-Nya, sudah banyak orang yang menjadi pengikut Kristus. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagaimana yang dilakukan dalam agama Kristen, yaitu bersekutu (koinonia), memberitakan firman (marturia), melayani orang-orang (diakonia).  

Kehidupan umat Kristen pada abad ke-1 – ke-2, melanjutkan cara ketika bersama Yesus, yaitu mereka berkumpul lalu membicarakan firman Tuhan, menyampaikan puji-pujian dan makan bersama. Ibadah atau persekutuan ini, umumnya dilakukan di rumah-rumah atau di tempat-tempat yang tersembunyi, khususnya di ruang bawah tanah (goa), ketika terjadi penganiayaan atau penindasan terhadap orang Kristen (Kis 16:10; Rom 16:5, 15; 1 Kor 16:19).

Gedung gereja pertama yang dipakai orang-orang Kristen baru berdiri di Edessa, di Syria tahun 200M. Pada awal sejarah gereja, umat Kristen yang ada terdiri dari berbagai latar belakang suku bangsa. Namun yang paling menonjol dan berperan utama adalah orang-orang Kristen Yahudi. Mereka terutama tinggal di Yerusalem. Karena mereka berlatar belakang Yahudi maka mereka masih beribadah di Bait Allah dan Synagoge, serta masih mempraktekkan ajaran Hukum Taurat secara ketat (Kis 2:46; 3:1). Mereka tidak bergaul dengan masyakarat non Yahudi atau yang disebut kafir (Kis 10).

YAHUDI DI YERUSALEM
Pada masa awal itu di Yerusalem, orang-orang Kristen mengalami penghambatan, seperti difitnah, dianiaya bahkan dibunuh. Karena hal ini, mereka lalu melarikan diri dari Yerusalem dan pindah ke Samaria di bagian Utara daerah Palestina/Israel. Di sana mereka menyebarkan Injil dan banyak orang yang termasuk kafir kemudian menerima Injil (Kis 8:19-30; 10). Dengan demikian sudah terjadi penyebaran Injil ke luar daerah. Tersebarnya Injil di luar Yerusalem dan terhadap orang-orang bukan Yahudi menyebabkan masalah dalam lingkungan umat Kristen.

Masalahnya adalah orang-orang Kristen Yahudi itu hendak memaksakan pelaksanaan Hukum Taurat atau tradisi Yahudi kepada orang-orang Kristen baru dari bangsa lain. Juga dalam hal-hal tertentu, mereka tidak mau bergaul dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi, misalnya di Anthiokia, Petrus tidak mau bersama dengan orang-orang Kristen itu (Kis 15:1-2, 7-21, Gal 2:11-14). Tetapi ketika di Yerusalem, Petrus bersedia masuk ke rumah Kornelius yang bukan Yahudi. Di pihak lain, yaitu Paulus mengajarkan bahwa kita dapat bergaul dengan sesame orang Kristen yang bukan Yahudi karena mereka adalah saudara-saudara seiman.

Mereka juga tidak harus mengikuti aturan atau adat Yahudi atau Taurat dan mereka dapat diselamatkan (Gal 5:6). Persoalan ini diselesaikan melalui sidang para pemimpin gereja sekitar tahun 48, jadi 18 tahun setelah Pentakosta (Kis 15). Di sini Paulus berhasil meyakinkan orang-orang Krsiten Yahudi bahwa orang-orang Kristen bukan Yahudi tidak harus melakukan Hukum Taurat untuk diselamatkan (Kis 15).

Dalam perkembangan kemudian, Injil tersebar secara luas dan pada tahun 175 sudah banyak daerah yang menjadi Kristen termasuk bagian Eropa Barat, yaitu sebagian Perancis dan Roma dan sebagian daerah Asia Kecil (Kis 18:24-25; Rom 16:20-24). Pusat pekabaran Injil adalah kota Anthiokia (bagian Samaria) (Kis 11:20). Tokoh utama dalam penyebaran Injil ini adalah Rasul Paulus.

PENYEBARAN KRISTEN DI SYRIA DAN PERSIA
Di bagian Timur, yaitu daerah Syria dan Persia, penyebaran agama Kristen dilakukan oleh orang-orang Kristen Yahudi. Pada tahun 179 Raja Edessa, salah satu kerajaan di daerah Timur itu masuk Kristen. Agama Kristen manjadi agama Negara dan kerajaan Edessa menjadi kerajaan Kristen yang pertama. (End, 24). Penyebaran Kristen juga mengarah ke Selatan, yaitu ke Mesir dan ke Arabia, khususnya Yaman. Pada tahun 150 sudah ada banyak orang Kristen di daerah tersebut. Pada tahun 180M, agama Kristen sudah tersebar di banyak tempat dengan daerah yang luas, yaitu di Eropa bagian Selatan, Perancis dan Itali sekarang, Arabia Selatan dan Persia.

Di abad-abad pertama perkembangannya, agama Kristen mengalami pergumulan tentang pokok ajarannya, khususnya mengenai Yesus; siapakah Dia sebenarnya; apakah Tuhan atau manusia; Anak Allah atau anak manusia. Jadi persoalan ini menyangkut Kristologi. Bersamaan dengan masalah Kristologi ini, muncul juga masalah hubungan antara Allah, Yesus dan Roh Kudus, yang kemudian dikenal dengan masalah Trinitas. Soal-soal ini kemudian diselesaikan oleh umat atau pemimpin-pemimpin Kristen melalui perumusan pokok-pokok ajaran atau pengakuan iman, seperti Pengakuan Iman Rasuli (sekitar abad 2 M) dan melalui sidang-sidang atau konsili, seperti Konsili Nicea (325M) dan Konstantinopel (381M), yang menghasilkan rumusan pengakuan iman, yaitu Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.

Sementara bergumul dengan masalah ajaran seperti tersebut di atas, orang Kristen mengalami penghambatan atau penganiayaan, baik dari rakyat maupun pemerintah. Penghambatan terutama terjadi karena orang-orang Kristen memiliki kehidupan yang berbeda dengan masyarakat. Mereka menjadi eksklusif dengan tidak mengikuti kebiasaan masyarakat.  Misalnya mereka tidak mau menonton pertandingan antara binatang buas dengan manusia; tidak mau menonton drama-drama yang menunjukkan ketidak-sopanan; tidak masuk dan memberikan persembahan kepada dewa-dewa di kuil; dan tidak mengikuti upacara kenegaraan dan tidak menyembah dewa-dewa atau kaisar yang disembah oleh masyarakat. (End, 53).

Karena itu, orang Krsiten dicurigai dan difitnah sebagai pelaku ajaan sesat. Misalnya mereka difitnah melakukan pembunuhan anak-anak kecil untuk dikorbankan kepada dewa mereka (karena ada ajaran tentang pengorbanan Anak manusia atau Anak Domba Allah, yaitu dalam diri Yesus); juga mereka difitnah membunuh manusia dan dagingnya dimakan dan darahnya diminum bersama dalam perjamuan (karena ada ajaran tentang makan roti dan minum anggur sebagai symbol tubuh dan darah Yesus yang dikorbankan untuk menebus dosa); juga mereka difitnah akan memberontak di bawah pimpinan seorang raja yang akan datang dan menciptakan kerajaan baru (karena ada ajarang tentang Yesus yang datang sebagai Raja dan membawa Kerajaan yang baru, yaitu Kerajaan Sorga). Dengan tuduhan dan fitnah itu, banyak orang Kristen dianiaya dan dibunuh, baik oleh rakyat maupun oleh pemerintah.

Kaisar pertama yang terkenal menganiaya umat Kristen adalah Kaisar Nero, yang pada tahun 64 menuduh orang-orang Krsiten yang membakar kota Roma, kemudian menganiaya orang-orang Kristen. Padahal dia sendiri yang membakar kota itu. Diduga bahwa Rasul Petrus dibunuh pada masa penganiayaan ini. Tokoh-tokoh Kristen lain yang dibunuh pada masa penganiayan ini adalah Ignatius (Uskup Anthiokia di Syria), Policarpus (Uskup Smirna di Asia Kecil) dan Blandina (budak dari kota Lyon di Perancis). Penindasan yang dialami orang-orang Kristen, tidak membuat mereka meinggalkan agama Kristen. Bahkan penindasan itu membuat banyak orang bukan Kristen bersimpati dan kemudian menjadi Kristen.

KRISTEN SEMAKIN BERKEMBANG
Dengan demikian umat Kristen semakin bertambah banyak. Pada akhir abad ke-2, umat Kristen mulai diberi kebebasan (End, 55). Mulai pada awal abad ke-3, penyebaran agama Kristen semakin luas melingkupi seluruh wilayah Romawi, Persia bahkan sebagian India. Namun penghambatan dimulai lagi secara intensif, yang dilakaukan oleh penguasa, yaitu Kaisar Desius (250 ) dan Kaisar Diocletianus (th 300). Di jaman Kaisar Desius, orang Kristen dihambat karena  mereka tidak mau mempersembahkan korban kepada para dewa, yang disembah oleh kaisar. Di sini mereka dituduh sebagai penghianat karena tidak mengikuti perintah kaisar. Setelah penghambatan kaisar Desius ini, umat Kristen mengalami perkembangan yang baik. Mereka diberikan kesempatan untuk menyebarkan agama Kristen dan di dalam perintahan ada menduduki jabatan-jabatan penting.

Namun, di masa Kaisar Diocletianus, penganiayaan terhadap orang Kristen berlangsung lagi bahkan semakin dahsyat. Orang-orang Kristen dipecat dari pekerjaan dan jabatan mereka, gedung-gedung gereja dibakar, uskup-uskup dibunuh. Perubahan besar terjadi bagi umat Kristen ketika Kaisar Konstantinus Agung memerintah. Dia berpikir bahwa menganiaya orang Kristen bukan hal yanag baik bagi Negara. Justru ajaran tentang persaudaraan dan persatuan dalam agama Kristen penting bagi kesatuan dan kekuatan Negara.

Oleh karena itu, ia bersimpati dan melindungi orang Kristen. Ia mengeluarkan keputusan Milano (th313), yang berisi: pertama, gereja diberikan kebebasan penuh untuk beraktivitas; kedua, milik gereja yang dirampas nergara dikembalikan, bahkan pemerintah memberikan fasiltas untuk membangun gedung-gedung gereja yang dirusak; hari Minggu dijadikan sebagai hari ibadah resmi. Kaisar ini kemudian masuk Kristen.

Setelah itu agama Kristen menjadi agama Negara, khususnya ketika Kaisar Thoedosius (th 380) memerintah. karena fasilitas ini, maka gereja menjadi sangat kaya dan semakin berkembang pesat dari segi jumlah dan daerah penyebarannya. Pada abad ke-5, penyebaran Kekristenan sudah meliputi daerah Asia Kecil, Eropa Barat, Palestina dan sekitarnya, Afrika Utara, termasuk Arabia Selatan, Persia dan sebagian India.

Sumber : GK Jakarta

 

AWAL MULA PERPECAHAN KRISTEN (KATOLIK & PROTESTAN)



AWAL MULA PERPECAHAN KRISTEN (KATOLIK & PROTESTAN)


Awalnya, terjadi perpecahan antara “Kristen yang menginduk pada kekuasaan formal Kekaisaran Romawi” (Tahta Suci Vatikan) dengan “Kristen yang mengakui Maria Magdalena sebagai pewaris ajaran Yesus “ (Kaum Gnostik). Kelompok pertama mengikut pada sosok Petrus yang meyakini jika kepemimpinan agama harus dari kaum pria, sebab itu dia membenci Maria Magdalena. Sedang yang kedua menyatakan jika Maria Magdalena-lah yang sebenarnya pewaris sah dari ajaran Yesus.

Istilah “Gnostik” berasal dari bahasa Yunani ‘Gnosis’ yang berarti ‘pengetahuan’. Kaum Gnostik ini menisbatkan Maria Magdalena sebagai ‘The Iluminatrix” atau “Yang tercerahkan”. Menurut banyak literatur, Sepeninggal Yesus, Maria Magdalena ditangkap penguasa Roma dan dibuang ke tengah laut dengan menyanderanya dalam sebuah perahu yang tidak memiliki layar dan tidak memiliki kemudi.

Maksud dari penguasa Roma tentu gampang ditebak: mereka ingin agar Maria Magdalena ini menemui ajal karena kelaparan dan kehausan di tengah laut. Namun perahu tersebut ternyata bisa mendarat di pantai selatan Perancis. Maria Magdalena selamat dan mengembangkan ajarannya di sana. Sampai kini, wilayah selatan Perancis dipenuhi dengan gereja-gereja bundar yang tidak lazim seperti halnya gereja Barat. Mereka mengkultuskan Maria Magdalena sebagai The Sacred Feminine dan mengangap Vatikan sebagai pihak yang merebut warisan Yesus secara tidak sah.

Burstein, penulis The Secrets of Mary Magdalene (2006) menulis, “Dalam kacamata kaum Gnostik, para penguasa Kekaisaran Romawi merupakan para Kaisar Pagan, musuh dari Yesus, yang merebut gerakannya dan membalikkan filosofi ajaran Yesus, mengubah kekristenan menjadi agama resmi yang hierarkhis, patriarkhis, dan imperialistis. ..Romawi membalikkan ide revolusioner anti- materi Yesus dengan menggunakan agama Kristen untuk menjustifikasi pengumpulan dan penumpukkan kekuasaan dan kekayaan.

Bukannya mendorong aktualisasi diri yang tertanam dalam berbagai dokumen gnostik seperti Injil Thomes dan Injil Mara, mereka menggunakan injil-injil yang telah mereka setujui sendiri untuk menghilangkan pelayan, budak-budak, dan bala-tentara. Mereka menghilangkan pencarian untuk mencapai pemahaman diri dan juga kemampuan untuk berhubungan dengan secara langsung dengan Tuhan, dengan menempatkan pada agama Yesus ini, yang seharusnya sederhana dan tanpa perantara, sebuah infrastruktur yang berisi para pendeta dan paus, gereja-gereja, pengakuan, katedral- katedral, dan crusades…” Sebab itu, sampai sekarang, Vatikan sarat dengan segala hal yang terkait agama pagan. Mulai dari tongkat Dewa Matahari Paus, Obelisk di tengah Katedral St. Peter, sampai dengan pengistimewaan Hari Dewa Matahari, The Sun-Day (Sunday), sebagai hari beribadah.

Sikap kaum Gnostik yang tidak mau tunduk di bawah Vatikan menyebabkan mereka dituding sebagai gerakan sesat (Heresy atau Bid’ah). Pada tahun 1209, Vatikan mengirim 30.000 tentaranya untuk menyerbu dan menghabisi Kaum Gnostik yang berpusat di Selatan Perancis, daerah Languedoc. Inilah Perang Salib pertama yang digelorakan Vatikan, perang antara Kristen Formal melawan umat Kristiani Gnostis, yang dikenal dalam sejarah sebagai Perang Salib Albigensian.

Di kota Bezire saja terbunuh 15.000 lelaki, perempuan, dan anak-anak kecil. “Ketika itu, seorang perwira menanyakan kepada wakil Paus bagaimana dia dapat membedakan orang-orang yang dituduh melakukan bid’ah (Kaum Kathari) dengan orang-orang yang beriman. Jawaban wakil Paus sungguh mengagetkan, “Bunuh saja semua. Tuhan akan mengenali hamba-Nya sendiri.” (Michael Baigent dkk, “The Holy Blood, Holy Grail”, 1982).

Sejarah Dunia menyebutkan jika Perang Salib Albigensian merupakan genosida pertama yang terjadi di Eropa. Perpecahan ini terjadi sebelum munculnya gerakan Protestan yang dimotori oleh Martin Luther pada tahun 1517 Sepeninggal Yesus, kekristenan telah terpecah ke dalam dua kelompok besar: Petrus menurunkan kekristenan formal yang menginduk pada kekuasaan Kaisar Roma di Vatikan, dan yang kedua— berhadapan secara diametral, adalah bentuk kekristenan Gnostik yang dibawa oleh Maria Magdalena.

Akibat kejumudan Gereja dan penyalahgunaan wewenang kekuasaan kepausan, pada tanggal 31 Oktober 1517, seorang Martin Luther dengan berani mengeluarkan 95 pernyataannya yang berisi protes terhadap otoritas Kepausan, karena itu gerakannya disebut Protestanisme.

Dalam waktu singkat, Martin Luther mendapatkan pengikut. Selain Protestanisme, muncul pula John Calvin yang menyuarakan Calvinisme. Inilah dua gerakan reformasi dan gugatan terhadap otoritas Gereja Katolik Roma yang sama-sama berawal di Inggris. Diam-diam, gerakan perlawanan terhadap Kepausan di Vatikan dimanfaatkan kaum Yahudi Eropa yang dulunya banyak yang merupakan mantan anggota Templar. Ordo ini sangat sakit hati terhadap Vatikan karena pada tahun 1307 pernah dikejar-kejar dan dibantai oleh Paus Clement V. Namun Martin Luther yang mengetahui hal ini segera mengingatkan pendukungnya untuk waspada terhadap penumpang gelap Yahudi, yang memiliki niat lain tapi menunggangi gerakannya. Martin Luther bahkan memerintahkan para pengikutnya agar tidak berhubungan dengan kaum Yahudi dalam hal apa pun. Sekte atau aliran di dalam kekristenan, maupun Katolik, sangat banyak. Dalam Protestan saja ada sekurangnya 200 aliran.

Belum lagi Katolik dengan kaum Gnostik. Soal Injil, kitab ini ditulis tidak pada zaman Yesus ketika masih hidup. Awalnya, terdapat banyak sekali Injil yang beredar dan ditulis oleh orang- orang yang mengaku sebagai murid Yesus. Injil ini terbagi ke dalam dua kelompok besar: Pertama, Injil yang mengakui Yesus sebagai Tuhan, ini disebut sebagai Kaum Trinitarian dan dipimpin oleh Anathasius. Kedua, Injil yang megakui Yesus hanya sebagai Rasul, bukan Tuhan. Kelompok ini disebut kaum Unitarian, dipimpin oleh Arius.

Pada tahun 325 M di Nicea, Kaisar Konstantin menggelar Konsili untuk menyeleksi Injil mana saja yang dianggap sah. Akhirnya, Konstantin memenangkan kaum Trinitarian. Arius dan para pengikutnya dibuang. Sedangkan InjiI-Injil kaum Unitarian dibakar habis, seperti Injil Barnabas, Injil Thomas, Injil Maria, Injil Hermes of Sheperd, dan sebagainya. Injil-Injil ini dikenal dengan istilah Injil Gnostik. Sampai sekarang, ada sejumlah Injil Gnostik yang terselamatkan namun hanya bisa dibaca oleh tokoh-tokoh Katolik, bukan umatnya. Sebab itu Injil ini disebut juga sebagai Injil Apokripa, Injil Yang Disembunyikan. James Carroll, alumna dari The Paulis Father Seminary AS dan mantan Pendeta Katolik yang menceburkan diri sebagai penulis, menyatakan jika semua Injil yang berlaku sekarang bukanlah sebuah catatan tentang kesaksian kehidupan dan ajaran Yesus. “Mereka ditulis antara 35 sampai 65 tahun dari wafatnya Yesus, sebuah pengentalan dari berbagai tradisi oral yang telah memiliki bentuk di dalam komunitas Kristen yang terpencar. Yesus wafat sekitar tahun 30 M. Injil Markus, Matius, dan Lukas ditulis pada sekitar tahun 65 sampai 85 M dan memiliki sumber-sumber dan tema-tema yang sama.

Injil Yohanes dibuat sekitar tahun 90 dan 95 M dan juga memiliki cirinya sendiri.”
Empat kanon inilah yang sekarang dipakai oleh umat Kristiani dunia. Jangan lupa, di tahun 70 M, Kaisar Romawi Titus menyerbu dan menghancurkan orang-orang Yahudi di Yerusalem. Haikal Sulaiman dihancurkan untuk kedua kalinya. Situasi politik ini turut mewarnai tradisi oral yang kemudian ditulis menjadi Inil. Keempat kanon atau Injil resmi ini di Eropa ditulis ulang oleh beberapa orang, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan juga bahasa- bahasa Eropa lainnya. Salah satunya oleh King James yang berbahasa Inggris. Sedangkan perjanjian baru adalah surat-surat dari Paulus, Yahudi dari Tarsus. Siapa Scofield dan bagaimana “Injilnya”? Cyrus Ingerson Scofield (lahir 19 Agustus 1843) adalah seorang veteran perang saudara Amerika. Dia sama sekali bukan ahli agama, pastor, atau pun sarjana. Scofield tak lebih dari seorang petualang yang pintar berbicara dan mudah meyakinkan orang. Tipikal orang seperti inilah yang kemudian dirasa cocok oleh Konspirasi Yahudi untuk menjalankan misinya mengubah penafsiran umat Kristen terhadap Alkitab, yang mampu membawa rahasia ini ke dalam liang kuburnya. Latar belakang Scofield sendiri berasal dari keluarga yang berantakan, punya catatan kejahatan, dan sering menipu orang. Awal abad ke-20, Scofield mulai memberikan catatan kaki pada Injil versi King James.

Ayat-ayat di dalam Injil tersebut sama sekali tidak diganti, namun di bawahnya diberi banyak sekali catatan-catatan kaki yang seluruhnya berisi dukungan dan pembenaran bagi berdirinya negara Zionis-Israel di tanah Palestina. The Oxford University membayar Scofield yang disebutnya sebagai pastor dan menerbitkan Injil tersebut dengan jumlah yang teramat besar. Di tahun 1908 Scofield merampungkan penulisan catatan kakinya ini dan Injil versi King James yang telah ditulisi ratusan bahkan ribuan catatan kakinya itu disebut sebagai The Scofield Reference Bible, The Holy Bible. Oxford University Press menerbitkan Injil Scofield pada tahun 1909 dan melakukan promosi gila-gilaan sehingga Injil Scofield menjadi Injil paling laris di Amerika Serikat. Di dalam Injilnya, Scofield sebenarnya meneruskan pandangan John N. Darby yang secara umum telah diterima oleh, evangelikalisme arus utama dan fundamentalisme Protestan Amerika. Scofield Reference Bible kemudian menjadi Alkitab kaum fundamentalis Kristen di AS dan dunia.

Seorang murid Scofield yang paling berpengaruh, Lewis Sperry Chafer, di tahun 1924 mendirikan Dallas Theological Seminary, Sekolah Theologi Amerika yang begitu bersemangat membela pandangan dispensasionalisme pra-millenialis Darby dan Injil Scofield, dan yang jelas juga, mereka membela habis-habisan kepentingan Zionisme. Selain Injil di atas, ada juga Injil Masonik, yakni Injil yang dipakai kaum Mason seluruh dunia. Mayoritas Presiden AS saat dilantik, termasuk Obama, menggunakan Masonic Bible ini. Dan memang, tidak setiap orang Kristen mengetahui tentang sejarah agamanya sendiri.